Ini adalah tulisan saya untuk Rubrik Hikmah di Republika yang belum (sempat dipublish) oleh redaksinya…(ha2, mungkin tulisan saya ga bagus ya?) Ya ga pa2, namanya juga belajar …
Oleh : Iwan Mulyana
Dalam hidupnya, Rasulullah adalah seorang yang sangat penyayang anak. Ia dengan kelembutan hati dan prilakunya sering kali mengajak cucunya Hasan dan Husein bermain dan bercanda dalam suasana penuh kelembutan. Beliau juga tak segan mengajak dan membawa cucu-nya itu ke mesjid. Bahkan dalam suatu waktu pernah membiarkan salah satu dari dua cucunya itu berada di atas punggungnya pada saat beliau sedang menjadi imam. Sampai-sampai rukunya lebih panjang daripada biasanya.
Dari sikapnya yang lembut dan sayang kepada anak itu, mengisyaratkan bahwa anak adalah suatu yang istimewa di mata Islam. Istimewa bagaimana melihatnya secara proporsional yaitu bagaimana memperlakukannya, memberinya makan, mendidiknya, dan membesarkannya. Tak ada cara lain bagaimana harus mendidik dan membesarkan anak selain dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sudah banyak contoh anak yang lahir dan dibesarkan dalam tekanan dan kekerasan akan menghasilkan pemuda yang tak punya hati, kasar, dan tidak jarang menjadi seorang kriminal. Maka, hak anak adalah jelas. Dalam suatu riwayat seseorang datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Rasulullah menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatimu).” (HR. Aththusi).
Anak adalah ciptaan Allah SWT yang akan lahir dan menjadi besar seperti apa nantinya tergantung kepada bagaimana cara orang tuanya mendidik dan membesarkannya. Apakah mau menjadi seorang yang baik dan buruk. Apakah mau menjadi seorang pahlawan atau pecundang. Apakah mau jadi mukmin, munafik, atau kafir. Dalam suatu hadits disebutkan : “ Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya-lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)
Atas hal itu, orang tua adalah menjadi faktor terpenting dalam hal pembangunan akhlak dan mental seorang anak, selain tentunya guru di sekolah, lingkungan pergaulan, dan lingkungan rumah. Atas tanggung jawab ini kelak Allah akan meminta pertanggungjwaban banyak orang tua di akhirat kelak.
Anak, bagaimanapun tidak dapat dipersalahkan kelak jadi apa dia jika orang tuanya tidak mendidiknya dengan baik berdasarkan syariah yang digariskan Allah dan Rasulullah. Apa hak seorang orang tua menuntut anaknya menjadi seorang yang saleh jika dalam memberi nafkahnya saja dari harta hasil korupsi? Apa hak seorang bapak menuntut anaknya menjadi seorang pribadi yang santun dan sukses, jika ia sendiri tidak menjaga martabatnya dengan berbuat asusila dan maksiat lainnya. Sungguh, nafkah dan harta yang dibawa orang tua dan prilakunya, semuanya akan berpengaruh kepada anaknya.
Cintailah anak-anak dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya orang tuanyalah yang memberi mereka rezeki. Bapak, ibu, sudahkan kita berintrospeksi untuk kesalehan dan kesuksean anak kita? Semoga kita menjadi pribadi yang menjadi teladan bagi anak-anak kita dan menjawab dengan mantap atas permintaan tanggung jawab Allah diakherat kelak. Amin …
Penulis :
Nama : Iwan Mulyana
Domisili Komplek PLN No. 39
Jl Asem II Buntu, Cipete Selatan
Jakarta Selatan
Phone HP : 081514402199